Program Pascasarjana Universitas Merdeka (UNMER) Malang kembali menggelar Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Sosial atas nama Zulfikar pada Kamis, 18 Juni 2026. Promovendus yang telah menjalani ujian tahap pertama secara tertutup pada 7 April 2026 ini berhasil meraih predikat sangat memuaskan dalam bidang kajian politik dan pembangunan, setelah mempertahankan disertasi berjudul “Perilaku Sosial Santri Berbasis Kualitas Hafalan Al-Qur`an (Studi Realitas Sosial Perilaku Santri Pondok Pesantren Ma`had Daarut Tahfizh Al-Ikhlas di Banda Aceh)”.

Zulfikar adalah Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Agama Provinsi Aceh dengan pengalaman panjang, mulai dari Penyuluh Agama Islam hingga Kepala Bidang Penaiszawa Kanwil Kemenag Aceh. Lahir di Awe Geutah pada 6 Juli 1974, ia menyelesaikan S1 di PTIQ Jakarta dan S2 di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tumbuhnya pesantren tahfidz yang berkontribusi positif dalam membentuk perilaku sosial santri. Sebagaimana tertuang dalam ringkasannya, “fragmentasi masyarakat terkait dengan kehadiran banyak kyai yang menjalankan dan mengelola pesantren, yang masing-masing mempunyai independensi, otoritas, dan kekuasaan tersendiri” menunjukkan peran pesantren dalam membentuk masyarakat sangat jelas.

Menggunakan pendekatan kualitatif dengan purposive sampling, penelitian melibatkan Kyai, ustadz, santri, dan orang tua santri. Hasilnya mengungkap bahwa kualitas hafalan Al-Qur’an berkaitan erat dengan perubahan positif perilaku sosial santri, yang dikembangkan melalui disiplin, kepercayaan diri, kerjasama, komitmen bersama, muroja’ah rutin, penghormatan kepada Kyai, dan bimbingan guru. Faktor motivasi orang tua, keterbatasan akses pendidikan pasca tsunami, dan kondisi ekonomi menengah ke bawah menjadi faktor signifikan dalam keputusan orang tua menyekolahkan anak di pesantren tahfidz.

Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan bahwa orientasi orang tua memilih pesantren tahfidz lebih didasarkan pada harapan pembentukan akhlak dan perilaku sosial anak dibandingkan pencapaian akademik. Kualitas hafalan Al-Qur’an berfungsi tidak hanya sebagai capaian pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan perilaku sosial positif. Penelitian ini memperkuat teori Skinner tentang hubungan stimulus-respons, di mana keberhasilan santri dipengaruhi oleh stimulus dari orang tua dan ustadz sebagai penguat.