Program Pascasarjana Universitas Merdeka (UNMER) Malang kembali menorehkan prestasi akademik bergengsi. Pada Selasa, 10 Juni 2026, Elias Mite, S.STP., M.A.P., resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Sosial setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Aula Lantai 2 Gedung Program Pascasarjana UNMER Malang. Sebelumnya, promovendus telah menjalani ujian tahap pertama secara tertutup pada 8 April 2026 dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dalam bidang kajian politik dan pembangunan.
Elias Mite adalah aparatur sipil negara asal Merauke, Papua Selatan, yang telah mengabdi di berbagai posisi strategis, termasuk Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan dan Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Merauke. Pengalaman empirisnya yang mendalam di wilayah tapal batas inilah yang menjadi fondasi kuat bagi disertasi berjudul “Eksistensi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Lokal di Wilayah Perbatasan (Studi Interaksi Sosial Ekonomi Masyarakat di Perbatasan Sota–Papua New Guinea)” yang ia pertahankan di hadapan dewan penguji.
Penelitian Elias berangkat dari realitas bahwa masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia–Papua New Guinea memiliki kebiasaan melakukan aktivitas lintas batas yang telah berlangsung lama. Sebagaimana tertuang dalam ringkasannya, interaksi tersebut “berakar pada kesamaan unsur budaya, seperti bahasa, perkawinan, pola ekonomi subsisten, serta kepercayaan atau mitologi, yang kemudian membentuk jaringan mobilitas penduduk di wilayah perbatasan”. Fokus penelitiannya adalah Kampung Sota, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, yang berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi berkat hadirnya Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Ni Kanjeraei.

Elias menemukan bahwa eksistensi UMKM lokal di Sota sangat dipengaruhi oleh kuatnya interaksi sosial ekonomi masyarakat lintas batas. Aktivitas pertukaran bahan kebutuhan pokok meningkat signifikan sejak pembangunan PLBN, dengan pola transaksi yang masih memadukan sistem barter, penggunaan rupiah, serta mulai diperkenalkannya pembayaran digital meskipun penggunaannya masih terbatas. Supply bahan dasar sangat bergantung pada hubungan perdagangan lintas batas dan kondisi cuaca, sementara jumlah permintaan terhadap kebutuhan pokok melonjak pada hari-hari pasar tertentu.
Faktor pendorong eksistensi UMKM meliputi kreativitas pelaku usaha, dukungan interaksi sosial ekonomi lintas batas, kebijakan pembangunan kawasan perbatasan, serta peluang ekowisata. Adapun faktor penghambatnya adalah keterbatasan modal, rendahnya kemampuan manajerial, keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, dan dampak perubahan iklim terhadap sumber bahan baku.
Kebaruan ilmiah dari disertasi Elias terletak pada kontribusi teoretisnya yang memperluas Diagram Arus Lingkar (Circular Flow Diagram) klasik dari Francois Quesnay. Penelitian ini menunjukkan bahwa di wilayah perbatasan Sota–PNG, modal sosial dan kearifan lokal merupakan faktor kunci yang memengaruhi efisiensi, inklusivitas, dan keberlanjutan arus lingkar ekonomi. Sebagaimana diungkapkan Elias dalam sidang, “fakta paling unik adalah bahwa aktivitas ekonomi di perbatasan dibangun dengan hubungan kekerabatan” jelasnya. Penelitian ini juga menguatkan gagasan bahwa ekonomi informal bukanlah bayangan dari ekonomi formal, melainkan sistem tersendiri yang memiliki logika dan struktur operasionalnya sendiri, di mana UMKM di perbatasan beroperasi secara efisien dengan kemampuan adaptasi tinggi dan jaringan solidaritas komunitas yang kuat.

Dengan diraihnya gelar doktor oleh Elias Mite, UNMER Malang kembali melahirkan akademisi sekaligus praktisi kebijakan yang memahami secara mendalam realitas sosial-ekonomi masyarakat perbatasan. Penelitiannya memberikan kontribusi penting bagi pengembangan studi perbatasan di Indonesia, sekaligus menawarkan perspektif baru bahwa di balik garis-garis geografis yang memisahkan negara, terdapat denyut kehidupan sosial-ekonomi yang kaya dan saling terhubung melalui ikatan kekerabatan dan modal sosial.