Program Pascasarjana Universitas Merdeka (UNMER) Malang kembali menggelar Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Sosial atas nama dr. Anita Widi Hastuti, Sp.THT-BKL., M.H., M.A.R.S., pada Rabu, 11 Juni 2026, di Aula Lantai 2 Gedung Program Pascasarjana UNMER Malang. Promovendus yang telah menjalani ujian tahap pertama secara tertutup pada 10 April 2026 ini berhasil meraih predikat sangat memuaskan dalam bidang kajian kebijakan publik, setelah mempertahankan disertasi berjudul “Pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting pada Balita (Studi Implementasi Kebijakan Kesehatan Berdasarkan Peraturan Walikota Nomor 45 Tahun 2023 Tentang Percepatan Penurunan Stunting di Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang)”.
dr. Anita Widi Hastuti adalah dokter spesialis THT yang telah mengabdi di berbagai institusi kesehatan, termasuk sebagai Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gombong dan surveyor akreditasi rumah sakit Indonesia. Dengan latar belakang pendidikan yang komprehensif Profesi Dokter dari Unissula, MARS dari UMY, Magister Hukum dari UNMER Malang, dan kini S3 Ilmu Sosial penelitiannya memadukan pengalaman praktis di lapangan dengan kajian akademik yang mendalam.
Penelitian dr. Anita berangkat dari keprihatinan terhadap masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia, termasuk di Kota Semarang. Fokusnya pada Kecamatan Semarang Utara, kawasan pesisir perkotaan dengan persoalan kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan yang kurang memadai, dan rendahnya literasi kesehatan. Sebagaimana tertuang dalam penelitiannya, dr Anita menegaskan bahwa “stunting tidak hanya dipengaruhi oleh faktor gizi, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat, pola pengasuhan, perilaku kesehatan, akses layanan kesehatan, dan efektivitas implementasi kebijakan publik”.

Data menunjukkan penurunan kasus stunting dari 17,0 persen pada 2023 menjadi 12,0 persen pada 2025, namun implementasi kebijakan di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Hasil wawancara dan observasi terhadap aparat pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan keluarga balita menemukan bahwa program seperti posyandu, pemantauan tumbuh kembang, pemberian makanan tambahan, dan Rumah Pelita telah berjalan, namun partisipasi masyarakat belum merata. Kesenjangan komunikasi menjadi persoalan utama banyak keluarga balita tidak memahami kebijakan dan menganggap stunting sebagai faktor keturunan biasa.
Faktor penghambat diklasifikasikan menjadi internal (keterbatasan kapasitas aparatur, koordinasi lintas sektor yang lemah, dan kurangnya sarana) serta eksternal (rendahnya kesadaran masyarakat, partisipasi keluarga, dan kondisi sosial ekonomi pesisir). Kondisi lingkungan yang padat dan rawan rob turut memperburuk risiko kesehatan anak.
Kebaruan ilmiah disertasi Anita terletak pada pengembangan “individual-information based policy model” yang menempatkan masyarakat berwawasan (informed society) sebagai determinan utama efektivitas kebijakan. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang berfokus pada aspek administratif dan intervensi program semata, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada kemampuan individu dan masyarakat dalam mengakses, memahami, dan menginternalisasi informasi kesehatan menjadi perilaku preventif dan promotif. Dengan kata lain, masyarakat diposisikan bukan sebagai objek penerima kebijakan, melainkan subjek aktif berbasis literasi kesehatan.

Secara teoritis, penelitian ini memperkuat perspektif implementasi kebijakan publik Edwards III dengan menekankan pentingnya komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi, namun juga menambahkan dimensi literasi masyarakat sebagai faktor kunci. Implikasi praktisnya mencakup penguatan koordinasi lintas sektor, alokasi anggaran tepat sasaran, komunikasi kebijakan berbasis budaya lokal, serta penguatan kapasitas kader dan tenaga kesehatan sebagai fasilitator perubahan perilaku.
Dengan diraihnya gelar doktor oleh dr. Anita Widi Hastuti, UNMER Malang kembali melahirkan akademisi sekaligus praktisi kesehatan yang mampu menjembatani kebijakan dengan realitas sosial masyarakat. Penelitiannya memberikan kontribusi penting bagi pengembangan studi implementasi kebijakan kesehatan yang lebih adaptif, partisipatif, dan berbasis perilaku masyarakat, sekaligus menjadi panduan bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan penurunan stunting yang lebih efektif dan berkelanjutan, khususnya pada masyarakat pesisir dengan karakteristik kerentanan sosial dan lingkungan yang kompleks.